Saturday 29th of August 2026

Inilah 6 Tuntutan Aksi Agustus Gelap di UGM Merespons Meninggalnya Rheza, Affan Kurniawan, Iko, Andika, Hingga Alfarisi

Inilah 6 Tuntutan Aksi Agustus Gelap di UGM Merespons Meninggalnya Rheza, Affan Kurniawan, Iko, Andika, Hingga Alfarisi

--

TOLIMAG - Aksi massa bertajuk Agustus Gelap ini dilakukan oleh Aliansi Rakyat Memanggil, tak hanya mahasiswa, banyak pengemudi ojek online (ojol) turut berpartisipasi.

Sekitar pukul 15.30 WIB massa mulai berdatangan di Bundaran UGM sambil membawa berbagai spanduk dan poster. Perwakilan Aliansi Rakyat Memanggil, Bungkus mengatakan, aksi di Bundaran UGM ini berdasar dari keprihatinan atas persoalan-persoalan sosial.

"Sebenarnya berdasar dari keprihatinan persoalan-persoalan sosial yang sampai hari ini juga tidak terselesaikan, kriminalisasi, perampasan tanah rakyat, hak-hak rakyat, dan lain sebagainya," jelas Bungkus ketika ditemui di Bundaran UGM, Jumat (28/08/2026).

Dalam kesempatan ini, Bungkus menyatakan bahwa salah satu contoh yang menjadi persoalan adalah terkait dengan anggaran publik. Berdasarkan penuturannya, anggaran publik seharusnya digunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat.

Baca lainnya: Mahasiswa dan Ojol Gelar Aksi Agustus Gelap di Bundaran UGM Untuk Mengenang Korban Jiwa Tragedi Kekerasan Aparat Tahun Lalu

6 Tuntutan Aksi Agustus Gelap di UGM

Akan tetapi, menurutnya anggaran tersebut justru diprioritaskan untuk program-program yang dinilai masih dipertanyakan seberapa besar bermanfaat bagi rakyat.

"Seharusnya itu digunakan oleh negara untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat dan lain sebagainya, tapi justru digunakan dan diprioritaskan untuk program-program yang sebenarnya kita juga tidak tahu manfaatnya itu sebesar apa dan seberguna apa bagi masyarakat. Misalnya soal MBG, soal Kopdes, dan lain sebagainya," ucapnya.

Persoalan-persoalan itu, lanjut Bungkus, tidak pernah diselesaikan hingga hari ini. Aksi demonstrasi ditutup dengan pembacaan tuntutan. Massa aksi tampak duduk sembari memegang lilin yang menyala.

Dalam aksi massa ini, beberapa orang juga tampak berdiri sambil memegang obor. Berikut enam tuntutan yang disuarakan Aliansi Rakyat Memanggil:

1. Jaminan kebebasan sipil dan demokrasi.
2. Stop militerisme dan impunitas.
3. Wujudkan kesejahteraan mulai dari melindungi hak hidup layak.
4. Lindungi kedaulatan rakyat atas ruang hidup dan penuhi hak atas ruang sipil.
6. Tuntaskan penanganan bencana dan hentikan berlanjutnya krisis pascabencana.
7. Terbitkan regulasi pengemudi transportasi online dan kurir.

Aksi ini dilakukan lantaran kasus-kasus tersebut sampai kini diduga masih belum mendapatkan penyelesaian hukum. Dalam keterangannya, Perwakilan Fight Inequality Alliance (FIA) Indonesia, Sana Ullaili, menyatakan demonstrasi menumbuhkan ruang pendidikan politik alternatif bagi generasi penerus. 

“Karena ini tidak sekedar demonstrasi yang menuntut ABCD EFG, tetapi ini menjadi ruang pendidikan politik, menjadi ruang untuk merawat kerja-kerja perlawanan kita,” jelas Sana.

Merespons Meninggalnya Rheza, Affan Kurniawan, Iko, Andika, Hingga Alfarisi

Aksi yang dilakukan masyarakat ini sebagai respons atas pemerintah yang menutup paksa berkas perkara kematian Rheza sebelum peringatan hari ketujuhnya berlalu. Tak heran, keluarga korban kehilangan hak menuntut keadilan mutlak.

Selain itu adanya tindakan represif di depan markas Kepolisian Daerah (Polda) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) turut meninggalkan luka fisik permanen bagi sejumlah pemuda.

Sejumlah korban pengeroyokan terpaksa menderita cacat seumur hidup hingga menjalani amputasi jari. Darah pemuda tumpah percuma. Pelaku bebas berkeliaran.

Baca lainnya: Merinding! Penjelasan The Remarried Empress Chapter 249 Sub Indonesia Habis Gelap Terbitlah Terang

Di sisi lain terdapat rekam jejak kebrutalan penguasa memaksa gerakan sipil perlu menyusun mitigasi keamanan mandiri. Aksi nir-kekerasan wajib mendasari setiap langkah protes jalanan. 

“Kematian Rheza, kematian Affan, dan kematian siapapun di tahun 2025 itu menjadi memoar buat kita bahwa kejahatan negara itu tidak bisa didiamkan dan tidak bisa dinormalisasi,” ujar Sana tegas.

Luka fisik yang didapatkan masyarakat dalam aksi unjuk rasa tak pernah mencerminkan keberhasilan sebuah perlawanan. Generasi muda bertugas merawat ingatan kolektif menolak lupa sejarah kelam bangsanya.

Sebagaimana yang kita tau tahun lalu terjadi aksi massa yang melibatkan berbagai elemen masyarakat di berbagai wilayah. ebagai informasi, demonstrasi adalah pernyataan protes secara massal atau unjuk rasa, serta peragaan cara melakukan sesuatu. 

Demonstrasi dilakukan sebagai bentuk penyampaian aspirasi dan kritik ketika saluran formal atau kebijakan pemerintah dinilai tidak mendengarkan suara rakyat. 

Demonstrasi atau demo diperbolehkan secara hukum di Indonesia sebagai bentuk kebebasan menyampaikan pendapat di muka umum. Sekian yang bisa kami sampaikan mengenai kejadian kali ini. Semoga para korban diterima di sisi-Nya dalam damai dan keluarga serta orang terdekat yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan pundak yang kuat. Akhir kata, terimakasih!

Source:

Update Terbaru

RELATED POST