Innalillahi! Cak Slamet Ludruk Karya Budaya Dikabarkan Meninggal Dunia
--
TOLIMAG – Kabar duka menyelimuti dunia ludruk Jawa Timur, khususnya Mojokerto. Cak Selamet, seniman legendaris yang dikenal melalui Ludruk Karya Budaya, meninggal dunia pada Selasa, 1 September 2026.
Dikutip JatimNetwork.com melalui akun Instagram @updatemojokerto, Kabar kepulangan Cak Selamet turut disampaikan melalui akun Facebook resmi Ludruk Karya Budaya Mojokerto.
"Sugeng tindak, Cak Slamet. Maturnuwun atas tiap-tiap kebaikan panjenengan dan pengabdian panjenengan, khususnya di Ludruk Karya Budaya Mojokerto dan di dunia ludruk pada umumnya," tulisnya pada postingan. Semasa berkiprah di dunia ludruk, Cak Selamet terkenal sebagai salah satu pelawak yang berjaya bersama Ludruk Karya Budaya.
Baca lainnya: Viral Cuplikan CCTV Dua Sejoli Bermesraan di Lift, Diduga Kepala Desa Tambun Selatan
Semasa berkiprah di Ludruk Karya Budaya, Cak Selamet sempat tampil bersama dua pelawak yang juga sudah lebih dulu meninggal dunia, yaitu Cak Supali atau Bambang Supali juga Cak Trubus atau Suhanto Trubus.
Kabar meninggalnya Cak Selamet membuat sejumlah warganet turut menyampaikan doa serta mengenang karya sosok yang berasal dari Japanan, Kecamatan Kemlagi, Mojokerto.
"Innalillahi wa innailaihi rojiun, Alfatihah kangge Cak Slamet, Cak Trubus dan Cak Supali, terima kasih banyak sudah menemani masa kecil saya," komentar akun Instagram @iam_zaind. Kenangan atas Ludruk Karya Budaya juga disampaikan akun Instagram @wendy_kiswha yang mengaku sudah mengikuti pertunjukan kelompok tersebut sejak 2003.
Slamet Riyadi (68) merupakan seorang seniman sejati. Warga Desa Sawo Kecamatan Jetis Kabupaten Mojokerto tersebut mengenal ludruk sejak remaja, melalui kehidupan ludruk tobong yang berpindah dari desa ke desa di Jawa Timur. Dari satu kelompok ke kelompok lain, ia sempat bergabung dengan Ludruk Teratai Jaya Sidoarjo, Ludruk Sari Murni Jombang, sampai dengan akhirnya menjadi bagian dari Ludruk Karya Budaya Mojokerto.
Namanya semakin terkenal pada masa kejayaan Karya Budaya. Bersama Cak Supali, Trubus, dan Cak Liwon, ia menjadi bagian dari generasi pelawak yang memberi warna kuat pada panggung ludruk Mojokerto. Akan tetapi, Cak Slamet bukan hanya pelawak. Ia juga terkenal piawai ngidung jula-juli dan memainkan berbagai karakter dalam lakon, termasuk Besutan.
Nisar Edi Karya, pimpinan Ludruk Karya Budaya, mengenang Cak Slamet sebagai seniman yang mempunyai dedikasi serta totalitas tinggi. Kemampuannya menciptakan kidungan jula-juli bahkan mendapat tempat dalam buku karya Edi Karya, Ludruk Karya Budaya: Mbeber Urip. “Orangnya sangat penuh dedikasi dan totalitas yang tinggi dalam menjalani profesinya,” ungkap Nisar.
Senada dengan Nisar, Jabbar Abdulloh, anggota Karya Budaya, menyebut Cak Slamet sebagai seniman multitalenta. Selain melawak dan ngidung, ia juga mampu memainkan lakon Besutan. Ia sempat membawa Besutan ke panggung Sunrise Mall, Kota Mojokerto. Dari tobong di pelosok desa sampai dengan pusat perbelanjaan modern, bagi Cak Slamet ludruk memang tak mengenal batas ruang. Pada catatan Jawa Pos Radar Mojokerto, Cak Slamet juga aktif dalam kegiatan regenerasi ludruk ke anak-anak muda.
Kini panggung Karya Budaya harus berjalan tanpa dirinya. Tetapi jejak Cak Slamet tidak berhenti ketika ia meninggalkan panggung. Ia tinggal didalam ingatan para penonton, dalam cerita sesama seniman, dalam kidungan jula-juli, serta dalam tawa yang pernah ia bagi kepada banyak orang.
Cak Slamet sudah turun dari panggung. Namun tawa dan kidungannya masih menjadi bagian dari perjalanan panjang ludruk Jawa Timur.