Tuesday 15th of September 2026

Alasan Video Mindfulness Maudy Ayunda Dianggap 'Tone Deaf' oleh Masyarakat Luas, Dianggap Abai Tentang Realitas Sosial

Alasan Video Mindfulness Maudy Ayunda Dianggap 'Tone Deaf' oleh Masyarakat Luas, Dianggap Abai Tentang Realitas Sosial

--

TOLIMAG – Aktris sekaligus aktivis berprestasi, Maudy Ayunda, mendadak menjadi sorotan tajam dan menuai kritik keras dari warganet di berbagai platform digital. Langkahnya mengunggah konten video edukasi terbaru justru berujung pada tudingan bahwa dirinya bersikap tone deaf atau kurang peka terhadap realitas situasi sosial yang sedang dihadapi masyarakat luas.

Gelombang pro dan kontra ini mencuat dengan cepat di media sosial, memicu diskusi publik yang mendalam mengenai batasan antara kepedulian mental individu dan empati terhadap krisis kolektif.

Polemik ini bermula ketika Maudy Ayunda merilis sebuah video di kanal YouTube resminya yang bertajuk "Mindfulness in the Age of Bad News". Dalam tayangan tersebut, lulusan Universitas Oxford dan Universitas Stanford ini berniat membagikan perspektif pribadi mengenai metode perawatan diri (self-care) serta cara menjaga kesehatan mental.

Baca lainnya: VIRAL! Video Guru SD dan Kepsek Pekalongan Ternyata Ditonton Para Murid? Simak Faktanya Disini!

Maudy menyarankan para pengikutnya untuk menerapkan konsep mindfulness, salah satunya dengan membatasi diri atau mengambil jarak dari paparan rentetan berita buruk (bad news) di Indonesia agar pikiran tidak merasa kelelahan atau kewalahan (overwhelmed).

Namun, pendekatan self-care yang ditawarkan oleh Maudy Ayunda tersebut justru memicu reaksi negatif dan dinilai bermasalah oleh masyarakat luas. Alasan utama mengapa video tersebut dianggap tone deaf adalah karena anjuran untuk sekadar "menjauh" dari berita buruk dinilai lahir murni dari kacamata privilese kelas atas.

Warganet mengkritik keras bahwa gagasan melakukan "diet berita" atau menyaring informasi negatif hanya mudah dilakukan oleh segelintir orang yang memiliki keamanan finansial, ruang aman, dan keistimewaan hidup. Sebaliknya, bagi masyarakat biasa kelas menengah ke bawah, krisis yang diberitakan—seperti kenaikan harga, bencana alam, hingga kebijakan publik yang tidak tepat sasaran—adalah realitas nyata yang berdampak langsung pada kehidupan harian mereka tanpa ada pilihan untuk menghindar.

Kekecewaan publik semakin merembet pada kritik terhadap posisi Maudy Ayunda sebagai figur publik besar yang memiliki pengaruh luas. Sebagian warganet menilai Maudy cenderung enggan menggunakan platform suaranya yang besar untuk bersikap vokal atau menunjukkan empati mendalam terhadap isu-isu krusial yang menimpa masyarakat. Sebaliknya, ia dinilai berlindung di balik narasi kepositifan yang dipaksakan (toxic positivity).

Baca lainnya: Manajer Persib Bandung Umuh Muchtar Himbau Bobotoh Untuk Tidak Datang ke SUGBK Demi Keamanan

Diskusi ini berkembang menjadi kritik sosiologis mengenai bagaimana tokoh publik yang berprivilese sering kali keliru dalam menawarkan solusi yang sifatnya personal dan psikologis atas permasalahan hidup yang sebenarnya berakar dari masalah struktural dan sistemik.

Merespons gelombang kritik keras yang datang bertubi-tubi, Maudy Ayunda mengambil langkah kooperatif dengan merilis pernyataan klarifikasi dan permohonan maaf secara terbuka di kanal YouTube-nya. Ia secara jujur mengakui adanya kekurangan dalam kontennya dan menerima masukan publik sebagai bahan evaluasi yang berharga. Maudy membenarkan anggapan netizen bahwa kemampuan untuk menjauh dari pemberitaan buruk pada dasarnya merupakan sebuah keistimewaan yang tidak dimiliki oleh semua orang, terutama ketika krisis tersebut berdampak langsung pada pekerjaan, keluarga, dan komunitas mereka.

Lebih lanjut, Maudy menegaskan bahwa pembahasannya mengenai konsep kesadaran diri (mindfulness) sama sekali tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk bersikap pasif, berdiam diri, atau abai terhadap penderitaan di sekitar. Ia menyatakan dirinya tetap memahami dampak nyata dari krisis sosial dan lingkungan yang terjadi di lapangan. Menurutnya, tujuan sejati dari pengelolaan kesehatan mental tersebut adalah agar seseorang bisa melihat sebab-akibat peristiwa secara lebih jernih, sehingga tetap mampu hadir dan terlibat secara berarti untuk membantu sesama tanpa mengorbankan kewarasan diri sendiri.

Source:

Update Terbaru

RELATED POST