Rencana BBM Campur Etanol 50% Kapan Diberlakukan? Menteri ESDM Bahlil Buka Suara: 'Kita Rancang Dulu Roadmap-nya'
--
TOLIMAG – Wacana mencampur bensin dengan bioetanol sampai dengan 50 persen (E50) belakangan ramai dibicarakan usai Presiden Prabowo Subianto memerintahkan Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyiapkan langkah pengembangannya. Namun sudah sejauh mana sebenarnya persiapan program ini berjalan?
Optimisme pemerintah terhadap E50 banyak mengacu pada capaian program biodiesel 50 persen (B50) pada solar, yang berlaku nasional sejak 1 Juli 2026. Program tersebut mencampur 50 persen Fatty Acid Methyl Ester (FAME) berbasis sawit dengan 50 persen solar murni.
Menurut Bahlil, ini merupakan kali pertama di dunia sebuah negara menerapkan campuran biodiesel sebesar itu. Bahlil menyebut, jika E50 berhasil menyusul capaian B50, Indonesia berpeluang tidak lagi mengimpor bensin jadi.
Baca lainnya: Berapa Harta Kekayaan Sirajudin Lasena? Simak Rincian LHKPN Bupati Bolaang Mongondow Utara yang Ditangkap KPK
"Nah, kalau ini mampu kita lakukan ke E50, Insyaallah, Insyaallah target kita, kita tidak lagi melakukan impor bensin yang jadi, produk jadi. Nah, kalau ini mampu kita lakukan, itu pasti ketahanan energi kita tidak lagi kita menggantungkan ke luar secara besar. Itu kira-kira pikirannya," terang Bahlil.
Terkait kapan Indonesia bisa terbebas dari impor bensin jadi dengan program E50, Bahlil belum dapat memastikan waktunya. Saat ini Bahlil bilang, pemerintah tengah menyusun roadmap penerapan pencampuran etanol untuk bensin.
"Nah, kapan ini dilakukan? Ini kan ada roadmap-nya. Kan baru diputuskan dalam DEN kemarin. Nah, tugas kami sekarang akan merancang dengan Dirjen Migas untuk merancang roadmap-nya gimana," kata Bahlil.
Soal kapan Indonesia bisa terbebas dari impor bensin jadi dengan program E50, Bahlil belum dapat memastikan waktunya. Saat ini Bahlil bilang, pemerintah tengah menyusun roadmap penerapan pencampuran etanol untuk bensin.
Baca lainnya: Manajer Kopdes Merah Putih Nasibnya Gimana? Lebih dari 20.000 Orang Digantungkan Nasibnya Hingga Luntang-Lantung
Dia memberikan tentang gambaran program BBM campur etanol. Ia mengungkapkan bahwa, pemerintah menargetkan E10 mulai diterapkan pada 2027, kemudian meningkat menjadi E20 pada 2028 dan berlanjut sampai dengan E50.
"Berangkat dari keberhasilan kita dalam membangun biodisel, sekarang kan kita sudah sampai dengan B50. Campuran dari fosil dan nabati. B50 ini kan campuran dari CPO tambah methanol, jadinya FAME. Kemudian FAME B FAME 50% dicampur dengan B0 solar, itulah menghasilkan B50, itu kira-kira logikanya," ungkap Bahlil.
Melihat hal tersebut, pihaknya kemudian melihat peluang pengembangan bahan bakar berbasis etanol untuk sektor bensin. Ia mengungkap sejumlah negara seperti Brasil telah mengembangkan penggunaan etanol sebagai bahan bakar, bahkan hingga E100.
"Tetapi kita harus menyesuaikan dengan industri kita. Kita tidak mau menerapkan E10, E20, atau E50, tapi etanolnya diimpor dari luar, sama saja bohong. Jadi kita ingin untuk memanfaatkan produksi kita dalam negeri," katanya.
Kendati demikian, Bahlil menyoroti bahwa implementasi program campuran bensin dengan etanol tersebut harus menyesuaikan dengan industri bioetanol di dalam negeri. Ia tidak ingin kalau program ini justru membuat Indonesia bergantung pada impor etanol.